Nama : Yunita Putri
NIM : 21 2010 078
ISBD (MD 302 N)
Pelanggaran Norma-norma di Sekitar Kita
Sejak kecil saya selalu diajarkan oleh orangtua saya tentang bagaimana cara makan yang baik yang benar. Misalnya saja, kaki tidak boleh naik ke kursi, suara sendok garpu tidak boleh beradu satu sama lain, makan tidak boleh sambil berbicara, dan jika makan mulut tidak boleh mengeluarkan suara decakan-decakan mengunyah makanan.
Kebiasaaan itu terus melekat pada diri saya. Yaaa, meskipun saya sering melanggarnya J . Saya juga sering menaikkan kaki ke atas kursi karena saya anggap makan seperti ini sangat santai dan nikmat sekali, terus kadang tidak sengaja sendok yang saya makan sering beradu sehingga menimbulkan suara ‘ting ting ting’ dan sangat mengganggu orang lain.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya sering hangout dengan teman-teman sebaya. Jalan-jalan, pergi ke mall, dan pasti diakhiri dengan makan bersama. Sampai saya tamat SMA saya belum pernah merasa risih dengan cara makan teman-teman sebaya saya.
Sampai pada waktu kuliah ini, kejanggalan akan cara makan salah satu teman saya membuat saya risih jika kami sedang makan bersama. Saya tidak mempedulikannya ketika dia makan sambil mengangkat kaki, maupun sendok dan garpunya beradu. Yang membuat saya risih dengannya adalah ketika dia makan, suara decakan makanan yang di kunyah di mulutnya terdengar begitu jelas. Saya sempat berpikir, ‘apakah teman saya ini sadar atau tidak suara decakannya sangat terdengar keras sekali dan tidak sopan’. Saya sempat pernah hampir kehilangan nafsu makan karena mendengar suara decakan kunyahan teman saya ini. Sangat mengganggu telinga dan selera makan. Saya sendiri tidak pernah menegurnya secara langsung maupun tidak langsung agar dia makan dengan cara yang sedikit lebih sopan. Saya takut menyinggung perasaan teman saya. Akhirnya, saya mendiamkan dia saja. Sampai saat ini, mungkin dia masih melakukan cara makan seperti itu. Saya tidak tahu apakah dia sudah berubah atau tidak, karena kenyataannya saya dan dia sudah jarang sekali bermain seperti dulu.
Komentar saya akan kasus seperti di atas adalah :
Mungkin teman saya yang satu ini tidak pernah diajarkan bagaimana makan yang baik dan benar oleh orangtuanya sejak kecil atau orangtuanya sendiri juga makan dengan cara seperti itu, mengeluarkan suara ketika mengunyah makanan di dalam mulut.
Saya juga salah, sebagai teman ada baiknya saya memberitahu dia agar makan lebih sopan. Karena ini juga penting untuk kehidupan teman saya selanjutnya. Bagaimana mungkin dia akan makan dengan cara seperti itu di hadapan seorang tokoh penting.
Teman saya sebaiknya juga sebaiknya intropeksi diri mengenai cara makan yang dianutnya selama ini. Mungkin dia perlu mengikuti table manner agar cara makannya bisa sedikit saja lebih sopan.
Norma yang termasuk dalam kasus saya :
Saya menganalisa bahwa kasus yang saya hadapi ini termasuk dalan norma sosial dan norma kesopanan. Norma sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batasan wilayah tertentu (from : wikipedia). Norma kesopanan adalah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga masing - masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Norma kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat (regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian (from : wikipedia). Teman saya sudah melanggar norma sosial dan norma kesopanan, dimana dia sudah melanggar kebiasaan umum di masyarakat, dimana ketika makan tidak boleh mengeluarkan suara decakan saat mengunyah. Saya harap dia dapat berubah.
Posted by



0 comments:
Post a Comment